Mahasiswa Ekonomi Islam Raih Best Essay Nasional

Moch Rizal Bayu Bakti Nugroho Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Angkatan 2018 berhasil meraih predikat Best Essay dalam  Lomba Esai Nasional Sigara In Competitionyang diadakan oleh Himunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta pada 09 Oktober 2018. Ajang yang bertemakan “Aku Muda, Aku Bisa :Kontribusi Generasi Muda dalam Mewujudkan Kemajuan Bangsa” tersebut diikuti oleh perwakilan dari beberapa mahasiswa delegasi universitas terkemuka di Indonesia seperti Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Udayana dan lain sebgainya.

Pada awalnya, Rizal merasa sedikit kurang percaya diri karena ia merupakan satu – satunya mahasiswa delegasi dari universitas swasta dan ia harus bersaing dengan peserta dari beberapa universitas negeri terkemuka seperti Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Udayana. Namun pada akhirnya, ia mampu meraih hasil yang terbaik. “ Sempat tidak Percaya, hampir semua finalis sudah diatas semester tiga. Alhamdulillah bisa meraih hasil memuaskan” ujarnya.

Mengambil sub tema pertahanan-keamanan, Rizal mengangkat konsep desain penjara anti korupsi. Ia menuliskan idenya untuk  dibangun sebuah penjara untuk tahanan korupsi yang menggunakan sistem keamanan sensor infrared dan ruangan kedap suara. Model bangunan menggunakan konsep Sustainable Green Building yang terbuat dari beton yang dilapisi gambut dan tanaman supaya mencegah  emisi karbon. “Bentuk penjara hampir mirip seperti jeruji rantai sepeda yang digabungkan terdiri dari 5 rantai dan setiap gir terbagi lagi menjadi ruangan ruangan khusus tergantung kelas atau tingkat korupsi yang dilakukan” Jelasnya.

Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam Juara 2 Musabaqah Fahmil Qur’an

Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menorehkan prestasi. Kali ini, Ayu Winda Risky mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Angkatan 2018 berhasil meraih juara 2 cabang lomba Musabaqah Fahmil Qur’an pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) UNS Surakarta yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2018 di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kegiatan ini merupakan kegiatan dua tahunan yang dilaksanakan oleh UKM Ilmu Al-Qur’an di UNS Surakarta. Kali ini, kegiatan ini mengusung tema “Generasi Milenial Berjiwa Qurani Wujudkan  Indonesia Emas.”.Selain prestasi, diarapkan kegiatan ini dapat mensyiarkan kegiatan Qur’ani di lingkungan kampus se-Pulau Jawa.

Tidak hanya MTQ, kegiatan ini juga menyelenggarakan cabang lomba MHQ (Musabaqah Hifzhil Qur’an), MTLQ (Musabaqah Tartilil Qur’an), MSQ (Musabaqah Sahril Qur’an), dan MFQ (Musabaqah Fahmil Qur’an). Di bawah naungan EL-Markazi, delegasi Universitas Islam Indonesia berhasil meraih beberapa gelar juara di cabang MTQ, MHQ, MSQ, dan MFQ. Selain UII, ajang ini turut diikuti oleh beberapa universitas lain diantaranya Universitas Gajah Mada, Universitas Juanda, UIN, UNY, UNM, ITS, UNAIR dan lain sebagainya.

Mahasiswi asal Medan ini merasa merasa sangat senang dan bersyukur karena dapat mengembangkan bakat dan potensi dengan berpartisipasi dan menyumbang gelar juar untuk PSEI UII. “Alhamdulillah saya mendapat pengalaman baru, ini pertama kalinya saya mengikuti lomba di tingkat mahasiswa. Jadi menambah pengalaman dan pengetahuan saya” paparnya. Ayu membuktikan bahwasanya sebagai mahasiswa semester awal tidak menutup kemungkinan untuk mencetak prestasi. Ayu berharap semoga kedepanya akan semakin banyak mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam yang akan terus mencetak prestasi sesuai dengan bidang dan keahlianya. Sehingga dapat menjadi salah satu aspek pendukung dalam peningkatan akreditasi prodi menuju terakreditasi A. Amin.

 

GAYA HIDUP HALAL SEBAGAI USAHA UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

GAYA HIDUP HALAL SEBAGAI USAHA UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

Oleh: Fitri Eka Aliyanti,SHI.,MA

 

“Rasulullah saw. bersabda: Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak peduli lagi dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (H.R. Bukhari)

Para pembaca yang dirahmati Allah, benar adanya sabda Rasulullah saw. yang beliau katakan beratus tahun yang lalu tersebut. Modernisasi yang merupakan tanda kemajuan ilmu pengetahuan manusia seringkali tidak sejalan dengan kondisi iman dan takwa. Tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nikmat dunia yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Tindakan korupsi, perampokan, pembegalan, pengedaran narkoba, pencurian, penipuan merupakan beberapa contoh cara yang tidak halal untuk mendapatkan harta dan marak sekali diberitakan di media dan seringkali meresahkan dan merugikan masyarakat.

Berbicara mengenai halal-haram, sesungguhnya halal-haram tidak hanya mencakup makanan dan minuman yang kita konsumsi, akan tetapi lebih dari itu, halal-haram merupakan persoalan kehidupan manusia secara keseluruhan. Sebagaimana firman Allah swt. yang tertulis di dalam Q.S. Al Baqarah [2] : 172 yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu beribadah.”

Kata “makanlah” di sini tidak saja berarti harfiah yaitu kegiatan makan dan minum, melainkan termasuk bagaimana cara memperoleh makanan tersebut. Yusuf Qardhawi (1993) menjelaskan mengenai pokok-pokok ajaran Islam tentang halal dan haram, dan salah satu pokok ajaran itu ialah “apa saja yang membawa kepada haram adalah haram”. Sehingga walaupun makanan itu halal, akan tetapi apabila cara pemerolehannya semisal dengan mencuri, maka ia haram untuk dimakan karena makanan tersebut merupakan hasil curian.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memperoleh harta dengan cara dosa, lalu ia menggunakannya untuk menjalin silaturrahmi, bersedekah, atau kepentingan di jalan Allah, niscaya Dia akan menghimpun semua hartanya itu lalu melemparkannya ke dalam neraka” (H.R. Abu Dawud) (Ghazali, 2007).

Memahami Apa Itu Halal, Haram, dan Thayyib

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat yang masih samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ali (2016) menjelaskan bahwa kata “halal” dan “haram” merupakan istilah Al Qur’an dan digunakan dalam berbagai hal, sebagiannya berkaitan dengan makanan dan minuman. Halal secara bahasa berarti sesuatu yang dibolehkan menurut syariat untuk dilakukan, digunakan, atau diusahakan, dengan disertai perhatian cara memperolehnya, bukan dari hasil muamalah yang dilarang. Sementara thayyib bisa diartikan sebagai sesuatu yang layak bagi jasad atau tubuh, baik dari segi gizi dan kesehatan serta tidak membahayakan badan dan akal.

Kemudian haram, secara terminologi diartikan sebagai sesuatu yang dilarang Allah dengan larangan yang tegas. Keharaman ada 2 macam yaitu karena disebabkan zatnya atau karena yang ditampakkannya.

Mengapa Harus Halal?

            Rasulullah saw. bersabda, “Mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Al-Thabarani dari Ibnu Mas’ud). Kewajiban ini di era sekarang pada akhirnya telah dicemari oleh beberapa syubhat dan transaksi-transaksi yang tidak sesuai syariat. Sehingga sebagian dari kita yang tidak mau benar-benar berfikir dan berusaha selalu beranggapan bahwa mencari sesuatu yang murni halal adalah suatu hal yang sulit, dan akhirnya mereka menghalalkan segala cara dalam memperoleh keinginan duniawi.

Padahal jika kita mengetahui, halal-haramnya makanan yang masuk ke tubuh kita akan berpengaruh terhadap kedekatan kita dengan Allah swt. Kedekatan ini yang nantinya akan berpengaruh terhadap doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Diriwayatkan di dalam hadits Al-Thabarani bahwa salah satu sahabat yang bernama Sa’ad pernah memohon Rasulullah saw. agar mendoakan dirinya menjadi orang yang diijabah doanya. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Baguskanlah makananmu, niscaya Allah menerima doamu.” (Ghazali, 2007). Demikianlah kuatnya pengaruh makanan dan rezeki yang halal terhadap hubungan kita dengan Allah swt.

Di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari pun diceritakan bahwa dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman,” Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukanlah kesalehan.” Dan Allah berfirman, “Wahai orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik.” Kemudian Rasulullah saw. menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, “Ya Tuhan. Ya Tuhan.” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (Sarwat, 2014).

Dari dua hadits yang dikemukakan sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa halal-haramnya rezeki yang kita peroleh dan kita konsumsi akan mempengaruhi kualitas hubungan kita dengan Allah swt. Dari sini pula kita bisa melakukan introspeksi. Apakah permasalahan halal hanya berada pada tataran kewajiban yang harus kita penuhi, atau kebutuhan yang tanpanya kita tidak bisa meraih hakikat hidup sebagai ibadah dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.?

Jika kita pahami lebih lanjut, ada beberapa alasan yang mendasari mengapa gaya hidup halal merupakan sarana untuk memelihara diri dan jiwa kita, serta untuk mendekatkan diri kepada pencipta kita, Allah swt. Yang mana jika diuraikan menjadi sebagai berikut (Sarwat,2014):

  1. Wujud keimanan kepada Allah

Bagi mereka yang memahami ajaran Islam dengan baik, apapun yang masuk ke dalam  perutnya harus seizin sang pencipta, Allah swt.

  1. Agar doa tidak terhalang

Banyak orang pergi haji atau umrah ke tanah suci, dengan mengeluarkan harta yang tidak sedikit, agar bisa berdoa di tempat yang mustajabah. Akan tetapi, kesucian tempat berdoa tidak akan berpengaruh banyak jika tidak diiringi dengan kesucian makanan yang masuk ke dalam perut.

  1. Mencegah api neraka

Alasan lain bagi kita untuk menghindari makanan haram adalah untuk menjauhkan diri kita dari api neraka, karena daging yang tumbuh dari asupan makanan haram akan menjadi sasaran api neraka di akhirat nanti. Wal ‘iyaadzu billah.

  1. Mencegah timbulnya penyakit

Salah satu hikmah dari menghindari makanan yang haram adalah terhindarnya diri kita dari penyakit. Apalagi jika makanan yang kita makan adalah makanan yang thayyib, yang jelas nilai gizinya dan sesuai dengan kebutuhan tubuh kita.

  1. Tidak mengikuti langkah setan

Pelajaran mengenai halal-haram sebetulnya sudah dikisahkan melalui kisah Adam as., Hawa, dan larangan memakan buah khuldi. Setan menggoda Adam as. dan Hawa untuk memakannya sehingga Allah swt. menghukum mereka. Maka demikian pula akibatnya jika seseorang mengikuti langkah setan dan memakan apa yang dilarang dan diharamkan Allah. Na’uudzu billaahi mindzalik.

Kesimpulan

            Para pembaca yang dirahmati Allah swt., demikianlah ulasan mengenai halal haram yang bisa penulis sampaikan. Dari sini kita memahami bahwa halal-haram bukan saja mengenai makanan dan minuman, akan tetapi menyeluruh ke segala aspek kehidupan. Dan kita juga bisa memahami bahwa pengaruh kehalalan sangat besar terhadap kualitas hubungan dan kedekatan kita dengan Allah swt. Kedekatan itu selanjutnya akan berpengaruh terhadap terkabul atau tidaknya doa-doa yang kita panjatkan sebagai hajat hidup kita di dunia. Selain itu pula, Allah akan memelihara jiwa mereka yang melaksanakan gaya hidup halal baik di dunia (dengan kesehatan), maupun di akhirat (dengan terhindarnya tubuh kita dari api neraka). Wallahu a’lam bis shawaab.

Referensi

Al Ghazali, Imam. 2007. Rahasia Halal-Haram: Hakikat Batin Perintah dan Larangan Allah. Terjemahan oleh Iwan Kurniawan. Bandung: Mizania

Ali, Muchtar. 2016. Konsep Makanan Halal dalam Tinjauan Syariah: Tanggung Jawab Produk Atas Produsen Industri Halal. Ahkam: Vol. XVI, No. 2, Juli 2016

Sarwat, Ahmad. 2014. Halal atau Haram?Kejelasan Menuju Keberkahan. Jakarta: Gramedia

Qardhawi, Yusuf. 1993. Halal dan Haram dalam Islam. Terjemahan oleh Mu’ammal Hamidy. Surabaya: Bina Ilmu

Prodi Ekonomi Islam Adakan Public Hearing Strategi Lulus Tepat Waktu

Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) terus berupaya meningkatkan kualitas mahasiswanya dari tahun ketahun. Kali ini, untuk mendukung kualitas akademik mahasiswa baru, Prodi Ekonomi Islam adakan kegiatan public hearing untuk mahasiswa Prodi Ekonomi Islam angkatan 2018 dengan tema “Strategi Jitu Lulus Tepat Waktu”. Kegiatan tersebut dilaknasnakan pada Kamis, 11 Oktober 2018 di Ruang Sidang Gedung K.H.A. Wahid Hasyim FIAI UII.

Antusiasme mahasiswa baru dalam menggali informasi terlihat dari banyaknya mahasiswa angkatan 2018 yang datang dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dibuka degan sambutan dari sekertaris Prodi Ekonomi Islam Tulasmi S.E.I, M.E.I. dan dilanjutkan dengan penyampaian materi yang terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi langsung oleh Kepala Prodi Ekonomi Islam Soya Sobaya, S.E.I., M.M. Soya menyampaikan bahwasanya strategi untuk dapat lulus tepat waktu dapat dengan cara mengenali cara belajar yang cocok untuk diri sendiri. Metode belajar manusia sendiri terbagi dalam tiga tipe yaitu; visual (Visual Learners) yaitu orang yang cenderung menitik beratkan ketajaman penglihatan dalam belajar, Listening (Auditory Learners) model pembelajar yang mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya, dan yang terakhir kinestetik (Kinesthetic Learners) yaitu gaya belajar yang mengharuskan individu menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Setelah mengenali tipe belajar yang cocok dengan kepribadian, mahasiswa harus mempraktekanya tidak hanya dikelas, melainkan juga belajar di waktu senggang. Selain model belajar, mahasiswa perlu mencermati aturan akademik yang berlaku di prodi, fakultas maupun universitas. Walaupun mahasiswa memiliki kewajiban dikelas 75% persensi, namun sisanya sebaiknya digunakan dengan sebaik-baiknya. Akan lebih baik mahasiswa memanfaatkanya dengan kegiatan yang bermanfaat seperti mengikuti perlombaan atau kegiatan sosial. Untuk bisa katif dalam kegiatan non-akademik dan keluar dari zona nyaman, mahasiswa perlu mengikuti kegiatan organisasi untuk mendapatkan banyak manfaat dan tentunya informasi. Agar tetap dapat menyeimbangkan kegiatan adademik dan non akademik, mahasiswa perlu memperhatikan buku-buku panduan dan berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) masing-masing.

 

Materi sesi kedua diisi oleh Mabdaul Basar selaku kepala urusan data akademik dan SIM FIAI yang menyampaikan sistem layanan informasi yang ada di FIAI UII dengan memberikan demo penggunaan layanan Unisys, penyampaian informasi yang terkanding didalam website fakultas, kurrikulum, dan urusan akademik. Kegiatan public hearing tersebut diharapkan dapat membantu memberikan informasi perkuliahan kepada mahasiswa baru dalam upaya menjadikan Sumber Daya Manusia di Prodi Ekonomi Islam semakin berkualitas.

Prodi Ekonomi Islam Adakan Public Hearing Cara Ampuh selesaikan skripsi

Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) gelar Public Hearing “Cara Ampuh Selesaikan Skripsi Dalam 6 Bulan” untuk mahasiswa Prodi Ekonomi Islam angkatan 2015. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Oktober 2018 di Ruang Sidang Gedung K.H.A. Wahid Hasyim FIAI UII.

Dalam sambutanya, kepala program studi ekonomi islam FIAI UII Soya Sobaya S.E., M.M. menyampaikan harapanya mengenai kegiatan tersebut. “Semoga Program Studi Ekonomi Islam dapat menghasilkan lulusan berkualitas dan sesuai dengan kompetensi” ujarnya. Prodi Ekonomi Islam menghadirkan Dr. Siti Achiria, S.E., M.M. yang juga merupakan dosen Prodi Ekonomi Islam untuk menyampaikan materi utama. Achiria memaparkan, bahwasanya syarat untuk lulus kuliah tidaklah hanya berupa persyaratan Baca Tulis Al-Qur’an (BTAQ), ujian komprehensif, test CEPT dan lain sebagainya, melainkan mahasiswa perlu menjaga kebugaran dengan rajin berolahraga agar dapat terus sehat dalam mengerjakan skripsi. Selanjutnya ia menyampaikan gambaran masalah yang biasa terjadi dalam mengerjakan skripsi seperti masalah dalam penulisan, masalah dengan dosen pembimbing skripsi, masalah pribadi, dan masalah tempat penelitian serta tips-tips penyelesaianya. Memasuki topik utama, Achiria menyampaikan tujuh trik untuk lulus cepat bahkan dalam 3,5 bulan, diantaranya ialah menyiapkan masalah lebih dari satu, melakukan pra-survey dan mencari data, mendiskusikan skripsi dengan orang lain, memperbanyak membaca fenomena, tidak bosan bimbingan dan mencatat masukan dosen, segera menemukan apa saja yang ditemukan, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk fokus skripsi, dan never give up.

Tidak sekedar memberikan pembekalan dalam menghadapi skripsi, Prodi Ekonomi Islam turut mengadakan Forum Group Discussion (FGD) mahasiswa dengan dosen pembimbing akademik masing-masing untuk memudahkan mahasiswa dalam berkonsultasi terkait perkuliahan, akademik, maupun tugas akhir. Lulluk Isna Munifah salah satu mahasiswa Prodi Ekonomi Islam Angkatan 2015 merasa senang dengan kegiatan public hearing yang dilaksanakan oleh PSEI. “Alhamdulillah prodi mengadakan public hearing, kegiatan ini sangat memberikan kami gambaran dan informasi mengenai tugas akhir sehingga memudahkan kami dalam penyusunan nantinya”. Ujarnya.

HIKMAH HIJRAH

HIKMAH HIJRAH

Oleh: Dr. Rahmani Timorita Yulianti, M.Ag

 

Hijrah identik dengan proses perpindahan, yaitu pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain guna mencari keselamatan diri dan mempertahankan aqidah agar lebih dekat kepada Allah Sang Pencipta. Imam Abu Dawud dalam riwayatnya telah memperjelas hijrah dengan makna proses mendekatkan diri kepada Allah Swt. (Dawud, t th) Dengan kata lain adalah perpindahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya. Hijrah tidak selalu diartikan dengan berpindah tempat, namun berpindahnya itulah yang disebut hijrah. Hijrah pada haikatnya adalah berpindah menuju kebaikan. Misalnya dari orang yang berkepribadian buruk berusaha menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi. Dengan berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya, maka seseorang akan memperoleh banyak keutamaan: (Shihab, 2002)

Keutamaan pertama, orang yang melakukan hijrah akan mendapatkan keluasan rizki, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 100 yang artinya:

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Keutamaan kedua, orang yang hijrah akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya. Hal ini berdasarkan al-Qur’an surat Ali Imran ayat 195 yang artinya:

Maka, orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi-Nya pahala yang baik.”

Keutamaan ketiga, orang yang hijrah akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah dan mendapatkan jaminan surga-Nya. Hal ini dapat dibaca dalam surat at-Taubah ayat 20-22 yang artinya:

”Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Keutamaan keempat, orang yang hijrah akan diberikan kemenangan dan meraih keridhaan-Nya. Dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 100 disebutkan, yang artinya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Di antara peristiwa sejarah yang sangat monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah Saw., adalah peristiwa hijrah Sang Nabi dan sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dalam peristiwa tersebut tampak sosok manusia yang begitu kokoh dalam memegang prinsip yang diyakini, tegar dalam mempertahankan aqidah, dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran. Sehingga sejarah pun dengan bangga menorehkan tinta emasnya untuk mengenang sejarah hijrah tersebut, agar dapat dijadikan tolok ukur dalam pembangunan masyarakat masa kini, menuju masyarakat madani dan rabbani. Tegak di atas kebaikan, kebenaran, dan tegas terhadap kekufuran.

Perintah hijrah yang bermakna non-fisik telah diperintahkan kepada Nabi Muhammad Saw., di masa pertama kenabiannya. Hal ini dapat  ditemukan dalam wahyu-wahyu awal sebagaimana terekam dalam surat al-Muzammil ayat 10 dan al-Mudatstsir ayat 5. Tiga belas tahun kemudian, Nabi dan para sahabat diperintahkan melakukan hijrah fisik demi menyelamatkan iman mereka dari gangguan masyarakat kafir Mekkah. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas hijrah, baik dalam arti fisik ataupun non-fisik, merupakan konsep yang sangat penting dalam struktur ajaran agama.

Agama, selalu dilukiskan sebagai jalan kebenaran. Konsep-konsep seperti syari’ah, thariqah, dan shirath, yang mewakili kata lain dari agama, semuanya memiliki arti jalan. Salah satu korelasi yang paling kuat dengan pengertian jalan adalah gerak. Orang yang berada di jalan haruslah bergerak. Orang yang berhenti di jalan berarti menyalahi sifat dasar jalan itu sendiri. Oleh karena itu, orang Islam harus bergerak dan dinamis. Hal itu dinyatakan dengan sangat jelas dalam peristiwa hijrah. Dengan demikian, peristiwa hijrah adalah peristiwa bergerak menuju kebaikan dan kebenaran secara dinamis.

Kedinamisan tersebut terbukti dengan peristiwa Rasulullah sesampainya di Kota Yatsrib (Madinah). Nabi Muhammad kemudian melakukan banyak langkah penting guna memulai titik balik kemajuan Islam sebagai agama peradaban. Di antara langkah penting yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, mengubah nama Kota Yatsrib menjadi Kota Madinah, membuat kesepakatan sosial-politik dengan suku-suku Yahudi yang mendiami wilayah itu, dan lain sebagainya.

Melalui hijrah itulah Nabi Muhammad membangun masyarakat Madinah yang berciri egaliterianisme, penghargaan berdasarkan prestasi bukan prestise, keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan penentuan kepemimpinan melalui pemilihan, bukan berdasarkan keturunan.

Dari paparan tersebut, terdapat pelajaran yang bisa dipetik untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat masa kini demi mencapai perubahan ke arah yang lebih baik.

Pelajaran pertama adalah, bahwa kita harus memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran agama maupun nilai-nilai kemanusiaan. Kemungkaran tersebut di antaranya seperti korupsi, menindas sesama manusia, menipu, berbohong, merampas hak orang lain, dan masih banyak yang lain.

Kedua, masyarakat harus memiliki sikap dinamis dalam merespon perubahan zaman demi mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan. Sikap dinamis itu dimanifestasikan dengan cara mengambil hal terbaik dari masa kini, dengan tetap mempertahankan warisan terbaik dari masa lalu.

Ketiga, bahwa perubahan yang dicita-citakan itu harus didasarkan kepada arah dan tujuan yang jelas. Tujuan tersebut kemudian harus dilengkapi dengan kematangan strategi dan taktik supaya gagasan-gagasan yang besar dapat diterjemahkan ke dalam dunia nyata.

Keempat, untuk menuju perubahan yang dicita-citakan, nilai-nilai spiritual menjadi suatu keniscayaan yang harus dibina. Spiritualitas adalah sisi yang paling dalam dari diri manusia sebagai agen perubahan. Oleh karena itu, jika spiritualitas tidak mendapatkan tempat dalam diskursus perubahan, maka bisa dipastikan perubahan itu hanya bersifat semu dan tak bermakna.

Kelima,  perubahan yang dicita-citakan tak akan terjadi apabila persatuan sosial dalam masyarakat tidak tercipta. Berdasarkan hal inilah, perbedaan-perbedaan yang merupakan keragaman tidak boleh menghalangi kita untuk bergerak menuju tujuan bersama. Perbedaan suku, ras, kelas sosial, bahkan agama, tidak boleh menjadikan masyarakat terpecah, karena ia adalah modal sosial untuk membangun kemajuan.

Keenam, sudah saatnya kita memberikan penghargaan kepada sesama terutama dalam konteks menjadikannya pemimpin berdasarkan prestasi yang telah dicapainya, dan bukan berdasarkan prestise, apalagi keturunannya.

Ketujuh, bahwa perubahan harus dipimpin oleh seseorang yang memiliki kemampuan menjadi contoh dalam menjalankan perubahan tersebut. Kemampuan inilah yang dimiliki Nabi Muhammad Saw., dalam memimpin masyarakat Madinah untuk menuju perubahan yang berperadaban.

Di atas semua itu, proses hijrah harus kita lakukan demi menuju perubahan yang dicita-citakan bersama. Karena hanya dengan hijrah-lah kita dapat mencapai tujuan sosial dari kehidupan beragama dan berbangsa yaitu menciptakan kehidupan yang beradab dengan memuliakan seluruh manusia berdasarkan prestasi yang dilakukannya.

Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam Juara 3 Nasyrotul Akhbar

Nailia Nurul Hikmah mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) angkatan 2018 berhasil meraih juara 3 lomba baca berita Bahasa Arab atau Nasyirotul Akbar  pada ajang Al-‘Arabiyyah Lil Funun (ALF) 2018 yang dilaksanakan pada 1 s.d 5 Oktober di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tema “MAHABBAH‘ (Menggelorakan Semangat Berkarya sebagai Wujud Cinta Bahasa Arab). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan diikuti oleh berbagai perwakilan sekolah dan universitas dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya perlombaan, rangkaian kegiatan juga berupa seminar nasional, karnaval, bazar, pentas seni, dan tentunya perlombaan. Pada tahun ini, ajang ini menggelar perlombaan yang terbagi menjadi tiga ategori yaitu; kategori mahasiswa, siswa dan umum.

Dibawah naungan El-Markazi, Nailia dan rekanya Muhammad Arif (Teknik Sipil-FTSP) yang meraih juara satu cabang lomba kaligrafi berhasil membawa nama UII untuk meraih gelar juara walau dengan waktu latihan yang terbilang sangat singkat yaitu seminggu. Mahasiswi asal Majalengka ini sudah menyukai Bahasa Arab sejak di bangku Sekolah Dasar (SD). Tidak heran, ia merasa sangat bersemangat bergabung menjadi bagian dari El-Markazi. “El-Markazi ini impianku, aku excited banget. Karena aku bisa mengembangkan potensi,mengabdi dan menginspirasi” ujarnya.

Menjadi salah satu peserta lomba ajang tersebut menjadi hal yang sangat berkesan untuk Nailia, karena dengan partisipasinya ia bisa mendapat banyak pelajaran dan teman baru. Selain itu, dengan melihat penampilan yang luar biasa dari peserta universitas lain kian memacu semangatnya untuk tampil lebih baik di kesempatan perlombaan yang akan datang. Terakhir, ia berpesan untuk jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita dapat karena semuanya hanya milik Allah SWT. Prestasi Nailia merupakan angin segar bagi Prodi Ekonomi Islam UII, dengan statusnya yang masih mahasiswa baru, Nailia membuktikan hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk sudah mulai berprestasi. Diharapkan prestasi ini akan mampu menginspirasi mahasiswa lainya untuk turut bersemangat dalam berprestasi dibidang apapun. Sehingga dapat membentuk atmosfer berprestasi di lingkungan Prodi Ekonomi Islam UII.

Menjadi Makhluk yang Disukai Allah untuk Meraih Sukses Dunia Akhirat

Menjadi Makhluk yang Disukai Allah untuk Meraih Sukses Dunia Akhirat

Oleh:

Siti Latifah Mubasiroh, S.Pd., M.Pd.

Dalam menjalani hidup ini, semua manusia pasti ingin menggapai kesuksesan. Manusia dianugerahi oleh Allah swt. naluri yang menjadikannya gemar memperoleh manfaat dan menghindari mudharat. Beribadah dan melaksanakan tugas sebagai khalifah adalah tujuan penciptaan manusia, sedangkan ibadah tidak dapat terlaksana dengan baik bila kebutuhan manusia tidak tercukupi. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan duniawi merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan dunia untuk mencapai sukses itu dapat dijalankan bersamaan dengan menggapai kesuksesan akhirat.

Kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau melimpahnya penghasilan. Kesuksesan sejati diraih jika seluruh capaian itu memberi manfaat bagi orang lain sehingga mengalirkan pahala jariah, dan kelak, saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini penting dipahami agar umur yang Allah berikan kepada manusia tidak sia-sia, tetapi justru memberikan banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.

 

Sifat dan Perilaku yang Disukai Allah

Dalam menjalani hidup, manusia harus menjadikan Allah sebagai tujuan dengan senantiasa mengharap ridha-Nya dan menjadikan surga sebagai cita-cita (Dasuqi, 2008). Demikian juga hendaknya memandang kesuksesan. Untuk memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat, tentu kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt. dan menjadi orang yang disukai-Nya. Berikut ini uraian tentang macam sifat atau perilaku manusia yang disukai oleh Allah swt. berdasarkan dalil dalam al-Qur’an.

 

Al-Muhsinin

Kata al-muhsinin adalah bentuk jamak dari kata muhsin yang terambil dari kata ahsana-ihsana. Rasulullah saw. menjelaskan makna ihsan sebagai berikut:

“Engkau menyembah Allah, seakan-akan melihat-Nya dan bila itu tidak tercapai maka yakinlah bahwa Dia melihatmu” (HR Muslim). Dengan demikian, perintah ihsan bermakna perintah melakukan segala aktivitas positif, seakan-akan Anda melihat Allah atau paling tidak selalu merasa dilihat dan diawasi oleh-Nya.

 

Al-Muttaqin

Takwa dapat diartikan sebagai perbuatan menghindari ancaman dan siksaan dari Allah swt. dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa selalu menuntun seseorang untuk senantiasa berhati-hati dalam berperilaku. Shihab (2013) menjelaskan bahwa terkait dengan ketakwaan, Allah memberikan dua macam perintah yang tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu perintah takwini dan perintah taklifi. Perintah takwini, yakni perintah Allah terhadap objek agar menjadi sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Ia biasa digambarkan oleh firman-Nya dengan “Kun fayakun”. Hal ini tercantum dalam beberapa dalil dalam al-Qur’an, antara lain QS. Fushshilat:11 dan QS. Al-Anbiya’:69. Kedua dalil tersebut menunjukkan betapa kuasa Allah atas apa pun yang Ia kehendaki akan terjadi dengan segera.

Kedua, perintah taklifi, yaitu perintah Allah terhadap makhluk yang dibebani tugas keagamaan (manusia dewasa dan jin) untuk melakukan hal-hal tertentu. Hal ini dapat berupa ibadah murni, seperti shalat, puasa, maupun aktivitas lainnya yang bukan berbentuk ibadah murni, seperti bekerja untuk mencari nafkah, menikah, dan lain-lain (Shihab, 2013). Dalam konteks berinteraksi dengan sesama manusia, terdapat sebuah pepatah terkenal, yaitu “Sebanyak Anda menerima, sebanyak itu pula hendaknya Anda memberi.” Namun demikian, Allah tidak menuntut hal tersebut. Allah, Sang Maha Pemurah menurunkan firman-Nya dalam QS. At-Taghabun:16 yang artinya

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Menurut Shihab (2013), jika kita hendak membicarakan prioritas dalam konteks ketakwaan, dapat diasumsikan dengan ilustrasi berikut ini: prioritas ketakwaan bagi penguasa adalah berlaku adil; bagi pengusaha adalah jujur; bagi guru/dosen adalah ketulusan mengajar dan meneliti; bagi si kaya adalah ketulusan bersedekah dan membantu; bagi si miskin adalah kesungguhan bekerja dan menghindari minta-minta. Mereka yang bertakwa itulah yang memperoleh janji-Nya dalam QS. At-thalaq:2-3 yang menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rezeki dan jalan keluar atas setiap permasalahan bagi hamba-Nya yang bertakwa dan tawakal kepada-Nya.

 

Al-Muqsithin

Kata al-Muqsithin adalah bentuk jamak dari kata muqsith, yang diambil dari kata awasatha yang biasa dipersamakan maknanya dengan berlaku adil. Menariknya, tidak ditemukan bunyi pernyataan al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil dengan kata ‘adl/adil, tetapi ditemukan perintah menegakkan al-qisth, yakni dalam beberapa firman-Nya: QS. Al-Maidah:8; QS. An-Nisa’:3; QS. AL-Hujurat:9.

 

Al-Mutathahhirin

Kata al-mutathahhirin dapat diartikan sebagai kesucian dan keterhindaran dari kotoran/noda. Salah satu pernyataan al-Qur’an bahwa Allah menyukai al-mutathahhirin ditemukan dalam QS. Al-Baqarah:222 yang menjelaskan tentang larangan seorang suami mencampuri istri yang sedang haid. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.

 

At-Tawwabin

At-tawwabin berarti kembali ke posisi semula. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, setan akan terus berusaha merayu manusia. Oleh sebab itu, hendaknya manusia yang berdosa segera bertaubat agar kembali suci. Allah swt., Sang Maha Pengampun sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat atas kesalahan-kesalahannya dan tidak mempersulit. Dalil yang menjelaskan tentang at-tawwabin tercantum dalam firman Allah swt., di antaranya QS. Al-Baqarah:37, QS. An-Nisa’:31, QS. An-Nisa’:17.

 

 

 

Ash-Shabirin

As-shabirin berarti sabar. Seorang yang sabar akan menahan dri, dan untuk itu memerlukan kekukuhan jiwa dan mental baja agar dapat mencapai ketinggian yang diharapkannya (Shihab, 2013). Mustaqim (2013) juga berpendapat bahwa sabar berusaha keras untuk mencapai tujuan, menahan diri dari rasa malas dan lelah. Banyak firman Allah dalam al-Qur’an yang berisi perintah kepada manusia untuk bersabar. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Shihab (2013), dua kali al-Qur’an berpesan agar menjadikan shalat/permohonan kepada Allah dan sabar sebagai sarana untuk memperoleh segala yang dikehendaki (QS. Al-Baqarah:45, 153). Sabar selalu pahit awalnya, tapi manis akhirnya (QS. Ali Imran:186). Dengan kesabaran dan ketakwaan akan turun bantuan Ilahi guna menghadapi segala macam tantangan (QS. Ali Imran:120). Allah memerintahkan sabar dalam menghadapi yang tidak disenangi maupun yang disenangi.

 

Al-Mutawakkilin

Al-mutawakilin dapat diartikan mewakilkan. Perintah tawakal kepada Allah dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak sebelas kali (Shihab, 2013). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap aktivitas kehidupan kita, seorang Muslim dituntut untuk berusaha sambil berdoa dan setelah itu ia dituntut untuk berserah diri kepada Allah. Ketika manusia telah berusaha keras kemudian menyerahkan semuanya pada Allah, manusia harus yakin bahwa apa pun ketetapan Allah merupakan pilihan terbaik untuknya, sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah:216.

Dalam berusaha dan berserah kepada Allah, tentu manusia tidak boleh hanya duduk diam menunggu jawaban ataupun keajaiban. Manusia perlu terus berdoa mendekatkan diri kepada Allah swt. agar benar-benar diberikan yang baik menurut kita (sesuai keinginan) dan baik menurut Allah swt. Anshor (2017) menyampaikan hal-hal yang bisa dilakukan untuk meminta kepada Allah, yaitu (a) memperbanyak shadaqah, (b) bangun untuk shalat tahajud, dan (c) memperbanyak silaturahmi. Selain tiga daya pengungkit rezeki tersebut, tentu masih banyak amalan lainnya. Jika dikerjakan secara istiqamah, insya Allah, Allah akan mempermudah segala urusan dan pencapaian cita-cita makhluk-Nya.

 

Kerja Sama dan Network

Dalam QS. Ash-Shaf:4, Allah berfirman yang artinya,

 Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Ayat di atas menunjukkan perlunya kebersamaan, network, dan koordinasi. Ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan dalam segala aktivitas positif, baik dalam melaksanakan ibadah ritual maupun dalam melaksanakan aneka aktivitas, itu sebabnya, shalat berjamaahn lebih diutamakan daripada shalat sendirian. Di sisi lain, kebersamaan itu tidak harus menjadikan semua pihak melakukan satu pekerjaan yang sama, melainkan perlu pembagian kerja yang diatur dalam satu network yang baik (Anshor, 2017).

 

Akhlak Mulia

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Shihab (2013), dinyatakan bahwa ada empat sifat khusus yang disebut oleh QS. Al-Maidah:54 yang menjadi sebab tercurahnya cinta Allah kepada manusia, yaitu (a) bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, (b) mulia/memiliki harga diri dan bersikap tegas terhadap yang kafir, (c) berjihad di jalan Allah, dan (d) tidak takut kepada celaan pencela.

 

Al-Ittiba’

  1. Ali Imran: 31 dan 32 memberi gambaran yang sangat umum menyangkut siapa atau perbuatan apa yang paling disukai Allah (Shihab, 2013), yakni perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Al-ittiba’ berarti meneladani, mengikuti secara sungguh-sungguh. Cinta Allah yang luar biasa akan diraih oleh mereka yang bersungguh-sungguh mengikuti Nabi Muhammad saw. Al-ittiba’ yang dimaksud ini dijelaskan oleh sabda Rasul saw. yang berbunyi, “yakni atas dasar kebajikan, takwa, dan rendah hati” (HR at-Tirmidzi, Abu Nu’aim, dan Ibnu ‘Asakir melalui sahabat Nabi, Abu ad-Darda).

 

Kesimpulan

Kunci sukses adalah iman. Iman adalah fondasi dalam beramal shalih sebab Allah hanya akan menerima amal shalih makhluk yang beriman kepada-Nya. Kemampuan beramal shalih inilah yang dapat dikatakan sebagai kesuksesan dunia dan akhirat. Hadis Nabi Muhammad saw. yang banyak dikenal umat Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” merupakan landasan pokok bagi manusia untuk menyikapi kesuksesan yang telah dimiliki. Sejatinya, semakin tinggi kesuksesan yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab dan kebermanfaatan yang dilakukan. Semakin tinggi gelar pendidikan yang dan ilmu yang diperoleh, semakin besar amanah untuk menyampaikannya kepada orang lain. Semakin banyak kekayaan yang didapat, semakin banyak zakat mal dan shadaqah yang harus dikeluarkan untuk orang lain. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab dan amanah untuk membantu dan menyejahterakan rakyatnya.

DAFTAR RUJUKAN

Ad-Dasuqi, K. ‘. (2008). Reasons of Happiness: Tips Menjadi Manusia Paling Bahagia Dunia Akhirat. Solo: Wacana Ilmiah Press.

Anshor, S. (2017). Journey to Success. Solo: Tinta Medina.

Mustaqim, A. (2013). Akhlak Tasawuf: Lelaku Suci Menuju Revolusi Hati. Yogyakarta: Kaukaba DIpantara.

Shihab, M. Q. (2013). Berbisnis Sukses Dunia Akhirat. Tangerang: Lentera Hati.

Shihab, M. Q. (2014). Mutiara Hati: Mengenal Hakikat Iman, Islam, dan Ihsan. Tangerang: Lentera Hati.

 

Kelompok Studi Pasar Modal Syariah Prodi Ekonomi Islam Sambut Anggota baru

Kelompok Studi Pasar Modal Syariah (KSPMS) Galeri Investasi Syariah (GIS) Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) sambut anggota baru akademisi Kelompok Studi Pasar Modal Syariah 2018. Setelah melalui seleksi berkas dan wawancara, terpilih sebanyak 29 anggota baru akademisi Kelompok Studi Pasar Modal Syariah Prodi Ekonomi Islam yang terdiri dari mahasiswa Prodi Ekonomi Islam angkatan 2016,2017, dan 2018.

Dibawah divisi Human Resources development yang dikoordinir oleh Adam Aziz Prakosi, Kelompok Studi Pasar Modal Syariah mengadakan acara kumpul perdana dan penyambutan anggota Akademisi Kelompok Studi Pasar Modal Syariah yang dilaksanakan pada Selasa, 2 Oktober 2018 di Ruang Sidang Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia. Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Ketua Kelompok Studi Pasar Modal Syariah M. Syahdi Yusuf dan M Adi Wicaksono S.E., M.E.I selaku ketua pengelola  Galeri Investasi Syariah kemudian dilanjutkan pengenalan pengurus inti dan masing-masing divisi serta perkenalan anggota baru akademisi KSPMS Prodi Ekonomi Islam FIAI UII.  Dalam sambutanya, Adi Wicaksono turut memberikan motivasi dan gambaran umum mengenai Pasar Modal Syariah dan Galeri Investasi Syariah Prodi Ekonomi Islam FIAI UII. Dimulai dari pengenalan apa dan bagaimana Pasar Modal Syariah dan sejarah pendirian Galeri Investasi Syariah Prodi Ekonomi Islam FIAI UII yang merupakan Galeri Investasi Syariah pertama di Indonesia.

Sebagai penutup, seluruh anggota baru akademisi Kelompok Studi Pasar Modal Syariah prodi Ekonomi Islam mengisi formulir pembukaan akun rekening saham syariah secara bersama-sama dengan dipandu oleh pengurus Kelompok Studi Pasar Modal Syariah. Pembukaan  rekening saham syariah ini merupakan salah satu syarat wajib untuk bergabung di Kelompok Studi Pasar Modal Syariah dalam rangka memudahkan proses belajar mengenai saham syariah dengan mempraktikan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Syahdi berpesan kepada seluruh anggota baru akademsi maupun pengurus untuk kembali menata niat belajar di Kelompok Studi Pasar Modal Syariah agar proses mempelajari saham syariah lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Kelompok Studi Pasar Modal Syariah terus berupaya untuk mengembangkan Galeri Investasi Syariah dan Pasar modal syariah khususnya saham syariah demi mencetak generasi ekonom rabani yang berkoitmen mengembangkan mengembangkan pasar modal syariah khususnya saham syariah.

SEF UGM Kunjungi Forum Kajian Ekonomi Islam UII

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi, Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Shariah Economics Forum (SEF)  Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM) kunjungi KSEI Forum kajian Ekonomi Islam (FKEI) Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) Fakutas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII). Kunjungan tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 28 September 2018 di Ruang Microteaching FIAI. KSEI Forum Kajian Ekonomi Islam didampingi oleh Rizqi Anfanni Fahmi SEI., MSI yang membuka acara kunjungan selaku Dosen Pendamping Organisasi (DPO) Program Studi Ekonomi Islam. Forum Kajian Ekonomi Islam merupakan Kelompok Studi Ekonomi Islam yang ada di Prodi Ekonomi Islam dan sekaligus menjadi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Prodi Ekonomi Islam. Forum Kajian Ekonomi Islam berangotakan seluruh mahasiswa PSEI dan terdapat beberapa mahasiswa yang menjadi pengurus FKEI yang menempati beberapa departemen yang ada di Forum Kajian Ekonomi Islam.

Kegiatan kunjungan berupa sharing antara kedua Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) yang  diawali dengan  perkenalan kedua KSEI dan setiap departemen yang ada didalamnya secara bergantian. Selanjutnya, divisi yang sama dari KSEI Shariah Economics Forum UGM dan KSEI Forum Kajian Ekonomi Islam UII saling berdiskusi dan sharing dalam Forum Group Discussion (FGD) mengenai program kerja masing-masing divisi.

KSEI FKEI yang diketuai oleh Wildan Achsanul Fikri merasa senang dengan kunjungan Shariah Economics Forum UGM ke KSEI Forum Kajian Ekonomi Islam UII. “Alhamdulillah KSEI Forum Kajian Ekonomi Islam mendapat banyak ilmu baru dalam hal pengembangan ekonomi islam” ujar Wildan. Ilmu yang didapat dari KSEI Shariah Economics Forum UGM tersebut nantinya dapat menjadi referensi pengembangan program kerja KSEI Forum Kajian Ekonomi Islam FIAI UII demi pengembangan ekonomi islam di lingkup UII khususnya Fakultas Ilmu Agama Islam. “Semoga silaturahmi yang telah terbangun dapat terus terjalin dengan baik” pungkasnya.