Ekonomi Kebahagiaan dan Ekonomi Islam

Ekonomi Kebahagiaan dan Ekonomi Islam

Rakhmawati, S.Stat, M.A.

 

Belum banyak yang mengetahui bahwa tanggal 20 Maret telah ditetapkan sebagai International Happiness Day oleh PBB sejak tahun 2012. Semua orang pasti setuju bahwa kebahagiaan merupakan hal utama yang ingin diraih. Dengan mengukur kebahagiaan, negara dapat terhindar dari “happiness traps”. Happiness traps telah terjadi di US dimana Produk Nasional Bruto terus meningkat namun kebahagiaan stagnan bahkan menurun (Beseiso, 2016). Pertumbuhan ekonomi memang menentukan tingkat kemajuan suatu bangsa, namun pemerintah perlu memperhatikan hal lain dalam usaha menyejahterakan rakyatnya. Sejahtera dalam arti yang sesungguhnya, bahagia, sejahtera lahir dan batin.

 

Dunia dikejutkan di pertengahan tahun 2017 dengan berita bunuh diri seorang vokalis grup band ternama Linkin Park. Ini membuktikan bahwa ketenaran dan uang yang berlimpah tidak dapat membeli kebahagiaan. Tentu saja hal ini tidak membuat uang menjadi unsur yang tidak penting dalam menentukan kebahagiaan. Angka bunuh diri tertinggi di tahun 2017 terdapat di negara Lithuania. Faktor utama dari tingginya angka bunuh diri di negara tersebut adalah adanya krisis ekonomi, pengangguran, dan multiplier effect lainnya.

 

Di tahap awal, manusia memerlukan materi untuk mendapatkan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan dasar. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, pentingnya uang dalam memenuhi kebahagiaan semakin menurun perannya. Suatu penelitian menyebutkan terdapat keterkaitan antara pendapatan dengan kebahagiaan di negara-negara berkembang namun tidak untuk negara maju.

 

Ekonomi kebahagiaan menyoroti variabel kebahagiaan sebagai tujuan utama manusia. Ekonomi kebahagiaan mengkombinasikan teknik para ekonom dan psikolog dalam mempelajari kesejahteraan. Studi oleh Easterlin (1974) tercatat sebagai pionir di bidang ini. Berdasarkan analisis data cross section negara-negara di dunia, disimpulkan bahwa peningkatan pendapatan tidak diikuti dengan peningkatan kebahagiaan. Fenomena ini disebut sebagai Easterlin Paradox.  Easterlin Paradox kebanyakan terjadi di negara-negara maju. Setiap negara memiliki tantangan untuk mewujudkan kesejahteraan. Produk Domestik Bruto (PDB) telah menjadi tolak ukur kemajuan perekonomian suatu negara selama puluhan tahun. Namun demikian, para ekonom telah menekankan sejak diperkenalkannya PDB di tahun 1930-an untuk tidak menjadikan PDB indikator kesejahteraan secara umum. Tingginya pertumbuhan PDB dalam jangka panjang tidak memberikan solusi bagi masalah kemiskinan karena PDB memberikan gambaran aktivitas perekonomian namun tidak dapat mengukur economic well-being (Costanza, Hart, Talberth, & Posner, 2009). Sejak tahun 1970-an, ukuran kesejahteraan untuk melengkapi PDB mulai digunakan. antara lain Indeks Pembangungan Manusia, Green GDP, Index of Social Progress, dan Index Well-Being (termasuk di dalamnya kebahagiaan). Ekonom Islam juga telah mengembangkan index well-being dengan didasarkan pada nilai-nilai Islam seperti Islamic Human Development Index (Hendrieanto, 2009) dan Islamic index of Wellbeing (Batchelor, 2006).

 

Sebagai negara yang menempati peringkat atas dalam hal kebahagiaan, Bhutan memiliki GDP yang sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. Hal ini menjadi salah satu motivasi negara Bhutan untuk menjadikan kebahagiaan sebagai isu penting di tingkat global. Bhutan merupakan negara yang pertama kali melakukan pengukuran kebahagiaan secara nasional dengan ukuran yang disebut Gross National Happiness (GNH) di tahun 1972. GNH Bhutan dikenal secara internasional setelah munculnya tulisan “Gross National Happiness is more important than the Gross Domestic Product” di Financial Times pada tahun 1986. Bank Dunia merilis World Happiness Report  pertama kali pada tahun 2012. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menyusun indeks kebahagiaan mulai tahun 2014 berdasarkan Survey Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK). Berbagai survey di tingkat nasional maupun global telah memasukkan pertanyaan mengenai kebahagiaan dengan konsep self-reported happiness. Sebutlah survey World Values Survey (WVS), General Values Survey (GVS), dan Indonesian Family Life Survey (IFLS).

 

Kebahagiaan sangat berperan dalam menciptakan masyarakat yang baik dan merupakan summum bonum menurut Aristoteles. Kebahagiaan sangat berhubungan dengan konsep utilitas dalam ekonomi dan dapat menjadi proksi bagi utilitas yang seringkali tidak dapat diukur secara eksplisit. Jika dapat diukur secara akurat, atau paling tidak mendekati, kebahagiaan adalah variabel alami bagi ekonom untuk dimodelkan karena maksimisasi utilitas adalah ide sentral dalam ekonomi.

 

Ada beberapa teori dalam ekonomi kebahagiaan mengenai faktor seseorang dapat bahagia. Studi empiris pun telah banyak dilakukan untuk mengetahui signifikansi hal-hal yang dianggap berperan dalam menciptakan kebahagiaan.

 

Sumber kebahagiaan setiap orang pasti berbeda satu dengan lainnya. ada yang bahagia karena uang melimpah, kekuasaan, ketenaran, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan yang bersumber dari hal duniawi tersebut akan stabil, akan terus membuat bahagia?

 

Ekonomi Kebahagiaan dalam Islam

Berbeda dengan Ekonomi Konvensional, perihal kebahagiaan telah mendapat posisi yang penting dalam Ekonomi Islam serta memiliki nilai moral dan filosofis yang dalam (Abde & Salih, 2015). Dalam Ekonomi Islam terdapat konsep Falah yang merupakan tujuan hidup. Falah berasal dari kata aflaha-yuflihu. Falah merupakan kebahagiaan dunia dan akhirat (Misanam, Suseno, & Hendrieanto, 2012). Menurut Akram Khan dalam bukunya An Introduction to Islamic Economics, “Its verbal form aflah,, yuflihu means: to thrive; to become happy; to have good luck or success; to be successful.

 

Mungkin bisa kita katakan bahwa Ekonomi Islam telah memiliki bahasan mengenai Ekonomi Kebahagiaan dengan konsep Falah-nya. Khan (1994) menyebutkan tiga unsur falah yang masing-masing dapat dipilah menjadi aspek makro dan mikro (Khan, 1994).

 

Tabel 1 Aspek Mikro dan Aspek Makro dalam Falah

Unsur Falah Aspek Mikro Aspek Makro
Kelangsungan Hidup (biologi, ekonomi, sosial, politk) ·          Kesehatan, kebebasan keturunan, dsb

·          Kepemilikan faktor produksi

·          Persaudaraan dan harmoni hubungan sosial

·          Kebebabasn dalam partisipasi politik

·          Keseimbangan ekologi dan lingkungan

·          Pengelolaan sumber daya alam

·          Penyediaan kesempatan berusaha untuk semua penduduk

·          Kebersamaan sosial, ketiadaan konflik antarkelompok

Kebebasan berkeinginan ·          Terbebas dari kemiskinan

·          Kemandirian hidup

·          Penyediaaan sumber daya untuk seluruh penduduk dan untuk generasi yang akan datang
Kekuatan dan harga diri ·          Harga diri

·          Kemerdekaan, perlindungan terhadap hidup dan kehormatan

·          Kekuatan ekonomi dan kebebasan dari utang

·          Kekuatan milier

Sumber: Khan (1994)

 

Studi empiris ekonomi kebahagiaan telah banyak dilakukan baik di negara Barat maupun negara Timur. Faktor yang diteliti-pun bermacam-macam meliputi aspek ekonomi, kesehatan, hubungan interpersonal, dan politik. Helliwell, Layard, & Sachs (2017) menganalisis perbedaan kebahagiaan antar negara dan disimpulkan bahwa GDP per kapita, dukungan sosial, kesehatan, kebebasan menentukan pilihan, kemurahan hati, persepsi terhadap korupsi, serta positive dan negative affect adalah faktor yang mempengaruhi kebahagiaan. Positive affect merupakan perasaan kebahagiaan, tawa, dan kesenangan. Sedangkan negative affect adalah kekhawatiran, kesedihan, dan kemarahan. Lane (2017) menganalisis arah hubungan perilaku interpersonal dan perilaku individu terhadap kebahagiaan. Hasilnya terdapat dampak kausal yang positif antara trust terhadap kebahagiaan jangka pendek maupun jangka panjang. Bixter (2015) menggunakan data General Social Survey 2012 dan World Values Survey 2005 dan mengonfirmasi studi sebelumnya yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkorelasi positif dengan political conservatism dan religiusitas. Ott (2011) melakukan analisis terhadap 130 negara mengenai Good Governance dan kebahagiaan. Good governance meningkatkan level kebahagiaan dan kesetaraan kebahagiaan. Salah satu aspek good governance adalah efektivitas pemerintahan yang dapat diukur dengan kualitas pelayanan publik.  Menurut Frey & Stutzer (2000), faktor kebahagiaan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (1) faktor kepribadian dan demografi, (2) faktor makro dan mikro, dan (3) kondisi institusi atau konstitusi di perekonomian dan masyarakat.

 

Jika kita lihat, variabel-variabel yang digunakan dalam studi tersebut dapat dikawinkan dengan unsur-unsur falah. Namun demikian, sepertinya belum ada studi empiris mengenai faktor kebahagiaan/falah dalam literatur Ekonomi Islam. Studi yang paling mendekati dengan Ekonomi Kebahagiaan adalah yang berkaitan dengan perhitungan Index wellbeing. Batchelor (2016) misalnya, studi ini menghitung index yang disebut sebagai IIW (Islamic Index of Well-being) negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Faktor apa yang signifikan terhadap wellbeing belum menjadi cakupan studinya. Beseiso (2016) menjelaskan dalam tataran konsep, mengenai peran keuangan dan perbankan syariah memiliki dalam ekonomi kebahagiaan, bagaimana agar Bank Sentral memiliki peran efektif dalam pencapaian human wellbeing (kebahagiaan).

 

Penutup

Penilaian kesejahteraan dalam arti sesungguhnya, yakni sejahtera lahir dan batin/kebahagiaan perlu dijadikan isu penting agar tidak terjebak dalam unsur materi/uang semata. Piramida kebahagiaan yang terdiri atas tujuh belas tujuan Sustainable Development Goal (SDG) dan unsur-unsur  falah dapat dijadikan pijakan dalam menentukan variabel-variabel yang perlu dilibatkan.

BANGKITKAN EKONOMI UMAT, RAIH KEMENANGAN DUNIA AKHIRAT

BANGKITKAN EKONOMI UMAT,

RAIH KEMENANGAN DUNIA AKHIRAT

Oleh: Rizqi Anfanni Fahmi, SEI, M.S.I.

Di setiap penghujung Ramadan, kita diperintahkan untuk bertakbir mengagungkan Allah tanda hari raya telah tiba. Setelah ditempa selama satu bulan oleh Allah, seharusnya kita mampu mengagungkan Allah di semua lini kehidupan, termasuk ekonomi. Kita sering mendengar kalimat Minal Aidin wal Faizin yang kurang lebih bermakna “Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang kembali dan memperoleh kemenangan”. Kemenangan dalam Alquran terdapat dalam beberapa kata salah satunya adalah Fauzu yang bermakna kemenangan berupa ampunan dan balasan surga bagi orang yang beriman dan beramal saleh serta berjihad memperjuangkan dakwah Islam. Kata “Fauzu” seakar dengan kata “Faizin”. Faizin di sini menunjukkan orang memperoleh kemenangan. Pantaskah kita mendapat predikat tersebut?

 

BERISLAM KAFFAH, SYARAT RAIH KEMENANGAN

Allah telah membuat panduan lengkap kepada kita dalam menjalani kehidupan di segala aspek melalui ajaran Islam. Islam adalah agama yang Kamil dan Syamil. Kamil berarti sempurna dan syamil berarti menyeluruh. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ma’idah ayat 3“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu”.

Mengapa agama harus repot-repot mengurus masalah ekonomi? Allah berfirman, jika kita mengaku beriman maka kita harus mau mengerjakan Islam dengan Kaffah sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 208:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”

Tujuan akhir puasa adalah menjadi orang-orang bertakwa. Salah satu makna takwa adalah takut. Seorang yang bertakwa semestinya takut harta yang diperolehnya tidak halal serta takut jika transaksinya haram. Dengan kata lain, ciri orang yang sukses Ramadannya adalah yang mulai berhijrah dari aktivitas-aktivitas ekonomi yang tidak sesuai syariah Islam. Inilah modal awal kebangkitan ekonomi umat.

 

REALITAS EKONOMI UMAT

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Populasi yang dominan tidak selamanya menjadi yang dominan dalam perekonomian. Apa daya umat Islam masih betah menjadi pasar, bukan sebagai key player. Jumlah penduduk muslim yang sangat besar tak lantas menjadi market leader. Sepuluh orang terkaya Indonesia yang ada dalam daftar, hanya ada satu yang seorang muslim entrepreneur.

Salah satu kendala mengapa pengusaha muslim di Indonesia belum menjadi pengusaha besar adalah masalah permodalan, di luar masalah etos kerja, jaringan, dan skill kewirausahaan. Padahal kita memiliki Bank Syariah. Tidak bisakah Bank Syariah menjadi penyokong utama permodalan para pengusaha muslim?

Di sini pun kita akan menemui satu lagi masalah. Ceruk Bank Syariah masih terlampau kecil dibanding bank konvensional, padahal sudah 26 tahun eksis di dunia perbankan Indonesia. Aset atau kekayaan bank syariah baru sekitar 5,7% dari total aset perbankan nasional (Otoritas Jasa Keuangan, 2018). Beberapa penyebab orang enggan memiliki rekening bank syariah antara lain karena bank syariah belum memiliki produk dan layanan selengkap, semodern, dan sebagus bank konvensional. Anggapan lain adalah bank syariah sama saja dengan bank konvensional bahkan bunganya lebih tinggi. Apakah benar begitu?

Berkaitan dengan pengusaha, maka sangat erat hubungannya dengan produk halal. Menurut data LPPOM MUI, pada kurun waktu tahun 2011-2014, baru 26,11% dari produk pangan, kosmetika, dan obat-obatan, yang mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI, 2014). Hal ini patut menjadi perhatian kita semua. Belum lagi jika kita perhatikan bagaimana kejujuran yang diajarkan Rasulullah sebagai seorang pedagang, seakan sirna oleh umatnya. Bahkan ibadah umrah pun dijadikan ladang penipuan, sebagaimana kasus First Travel yang merugikan jamaah hingga  Rp 905 milyar dengan iming-iming umrah murah (Putri, 2018).

Islam hadir memberikan panduan hidup selengkap-lengkapnya. Salah satu rukun Islam adalah zakat. Zakat tidak hanya zakat fitrah saja, tetapi ada zakat maal. Zakat maal inilah yang dapat menjadi instrumen untuk membantu saudara-saudara kita untuk bangkit dari garis kemiskinan. Namun sayangnya, belum semua umat Islam sadar akan kewajiban zakat maal ini. Menurut data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), pada tahun 2016 dana zakat yang terkumpul berjumlah Rp 3,8 triliun atau hanya kurang dari 2% dari potensi zakat di Indonesia yang mencapai Rp 286 Milyar (BAZNAS, 2017). Artinya kesadaran masyarakat masih rendah untuk berzakat, meskipun ada sebuah hasil survey yang dilakukan Charities Aid Foundation (CAF) pada tahun 2017, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan World Giving Index atau negara dengan kedermawanan tertinggi di dunia (Charities Aid Foundation, 2017). Nampaknya kedermawanan ini belum muncul dari kesadaran zakat, baru sebatas membantu sesama saja.

 

EKONOMI UMAT, JALAN MENUJU KEMENANGAN DUNIA AKHIRAT

Segelintir permasalahan di atas hanyalah secuplik keadaan umat Islam di Indonesia. Momen iedul fithri yang lalu harus kita jadikan tonggak kebangkitan ekonomi umat. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai bukti kita telah berhasil melalui Ramadan dengan predikat taqwa di bidang ekonomi keumatan:

  1. Galakkan ZERO BALANCE di bank konvensional

Jika ada yang masih menyamakan bank syariah dan konvensional, maka kita perlu belajar lagi agar kita paham bagaimana sesungguhnya letak perbedaan mendasarnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah tegaskan menfatwakan bunga bank itu adalah riba dan riba adalah dilarang dalam Islam. Lalu pasti akan muncul nyinyiran lagi, tak ada bedanya bunga di bank konvensional dengan margin atau bagi hasil di bank syariah. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275, dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. Walaupun masih banyak kekurangan sana-sini dalam perbankan syariah, maka tugas kita adalah meluruskan dan menguatkan, bukan meninggalkannya sama sekali. Ada kaidah dalam ushul fiqh: “Apa-apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya”. InsyaAllah jika semakin banyak orang yang menggunakan jasa bank syariah maka asetnya pun akan meningkat. Kuncinya apa? Umat Islam kompak berhijrah ke bank syariah, tentunya secara bertahap.

 

  1. Kampanyekan Sadar Zakat di Kalangan Umat Islam

Zakat adalah wajib bagi setiap muslim yang telah cukup nishab dan haulnya. Ada 5 objek wajib zakat menurut Syekh Wahbah Zuhaily (2011) dalam bukunya Fiqhul Islam wa Adillatuhu 1) zakat logam (emas, perak, dan uang); 2) Zakat Barang tambang; 3) Zakat barang dagangan; 4) Zakat tanaman dan buah-buahan; 5) Zakat hewan ternak.

Saat ini sedang digalakkan zakat yang sifatnya produktif. Mustahik atau penerima zakat mendapat modal dan juga pelatihan dari dana zakat sehingga diharapkan mereka lepas dari belenggu kemiskinan. Jika selama ini banyak zakat yang bersifat konsumtif, maka ke depannya zakat lebih banyak diarahkan kepada program-program produktif. Tentu saja pengelolannya harus di tangan lembaga yang profesional, yaitu Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebagaimana amanah Undang-Undang No 23 tahun 2011.

 

  1. Menjadi Pengusahayang Rahmatan lil ‘alamin

Hendaklah para pengusaha muslim bersinergi agar saling menguntungkan. Bantu pengusaha kecil yang sedang merintis. Hadirkan akhlaq dalam berbisnis sebagaimana Rasulullah telah mencontohkan. Modalnya bukan uang, tetapi kejujuran. Seorang pengusaha sukses bukan hanya dilihat dari melimpahnya omset dan aset, tetapi yang berdagang penuh etiket. Kalau sholat ia dan karyawan tidak ngaret. Tidak pelit mengeluarkan isi dompet, masjid-masjid ia belikan karpet sehingga masyarakat rasakan manfaat yang konkret. Sekalipun usahanya meroket, kejujurannya tetap awet.

 

  1. Menggencarkan Kajian-kajian Ekonomi dan Program Ekonomi Masjid

Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar”. Kita perlu membuka mata umat bahwa masalah-masalah ekonomi adalah salah prioritas yang harus dibahas di masjid-masjid. Masjid adalah institusi paling dekat dengan grassroot. Salah satu fungsi yang belum banyak kita temui adalah fungsi ekonomi. Di beberapa masjid sudah mulai muncul program-program ekonomi yang berbentuk koperasi maupun yang lain, Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang pada tahun 2017 merupakan Bank terbesar di Indonesia dengan aset Rp 1.126 triliun, dari berbagai literatur dikatakan bahwa modal awalnya berasal dari kas masjid (Sukirno, 2014). Pendirian BRI ketika itu untuk menghindari lintah darat berbunga tinggi. Dari masjid harus muncul solusi permasalahan ekonomi umat, bukan malah menambah masalah umat dengan seringnya meminta-minta kepada jamaah. Jika dikelola dengan baik dan dilakukan kerja sama dengan pihak lain, sesungguhnya program ekonomi masjid ini akan memiliki dampak signifikan kepada jamaah sekitarnya.

Umat Islam bukannya tidak kuat, tetapi belum terbangun dari tidurnya yang nyenyak sangat. Kebangkitan ekonomi umat bukanlah sebuah mimpu yang datang sekelebat. Ia akan benar-benar datang mendekat apabila setiap muslim samakan hasrat untuk terapkan ekonomi sesuai syariat. Mari bersatu mendukung kebangkitan ekonomi umat. Jauhi riba, suburkan zakat. Niscaya hidup akan tentram nikmat dan penuh maslahat serta tehindari dari berbagai mudharat. Di hari akhir mendapat syafaat. Itulah kemenangan di dunia dan akhirat.

 

Bersikap Seimbang untuk Dunia dan Akhirat

Bersikap Seimbang untuk Dunia dan Akhirat

Oleh : Sofwan Hadikusuma, Lc, M.E

Jika ada yang bertanya, untuk apa sebenarnya manusia diciptakan di dunia ini? Sebagai seorang muslim, tentu akan mudah menjawabnya: untuk beribadah. Demikian karena tujuan penciptaan memang telah jelas dititahkan oleh Allah swt. yaitu dalam firman-Nya pada surat adz-dzariyat ayat 56 yang artinya berbunyi: “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembahku)”. Ayat ini berlaku umum  menjelaskan bahwa tugas pokok kita sebagai manusia pada dasarnya adalah untuk beribadah semata. Namun demikian, apakah yang dimaksud dengan ibadah di sini hanya seperti yang kita bayangkan yaitu melaksanakan rukun Islam semata? Atau hanya berdiam di masjid berdzikir kepada Allah tanpa henti tanpa melakukan kegiatan apapun selainnya? Tentu tidak. Ketentuan bahwa satu-satunya tugas kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah untuk beribadah memang tidak dapat didustakan. Namun kenyataan bahwa kita hidup di dunia juga tidak dapat dikesampingkan.

Setiap manusia di dunia memiliki jalan takdir hidupnya masing-masing. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah saw. menerangkan bahwa nasib manusia pada hakikatnya sudah ditentukan, termasuk rezeki, ajal, amal, kesedihan, dan kebahagiaannya. Hal ini seharusnya meniscayakan adanya iman kepada Allah bahwa Dia lah satu-satunya yang berkuasa dan tiadalah manusia melakukan sesuatu apapun kecuali ditujukan untuk menggapai ridha-Nya.

Manusia memang diciptakan dengan berbagai macam watak dan karakter. Berdasarkan tingkat kesadarannya, aktivitas yang dilakukan tentu juga akan berbeda-beda. Seseorang dengan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, akan bisa menyeimbangkan kebutuhan duniawi dengan akhiratnya. Sementara seseorang dengan tingkat kesadaran tidak berimbang, akan lebih condong memprioritaskan salah satu dari keduanya.

Dari Anas ra. ia berkata, Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi saw. untuk bertanya tentang ibadah beliau. Setelah diberitahukan, mereka menganggap ibadah mereka sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Nabi saw., padahal beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Aku akan melakukan shalat malam seterusnya.” Lainnya berkata, “Aku akan berpuasa seterunya tanpa berbuka.”  Kemudian yang lain juga berkata, “Sedangkan aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.”

Melihat kepada potongan hadis di atas, tentu ada rasa kagum bagaimana semangat ibadah para sahabat yang sangat tinggi. Namun ternyata, setelah kabar ketiga sahabat tersebut sampai kepada Nabi saw., beliau memiliki tanggapan yang berbeda. Beliau menegaskan bahwa telah berlebih-lebihan dalam melakukan ibadah sehingga melupakan aspek kehidupan dunia, padahal amalan yang demikian tidak dicontohkannya. Pada lanjutan hadis dijelaskan bahwa Rasulullah saw. mendatangi mereka seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka siapa yang tidak menyukai sunahku, ia tidak termasuk golonganku.”

Sebaliknya, terlalu memperhatikan dunia hingga melupakan akhirat tentu juga tidak baik. Manusia memang diciptakan dengan akal dan dihiasi dengan keinginan (syahwat) pada keindahan-keindahan duniawi. Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya adalah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa wanita, anak, harta, kendaraan, termasuk sawah ladang adalah keindahan dunia yang wajar jika manusia condong kepadanya. Kecintaan terhadap beberapa hal tersebut pada dasarnya adalah sah karena fitrah manusia memang diciptakan demikian. Namun kemudian menjadi tidak wajar jika kecintaan yang timbul menjadi berlebihan, apalagi menjadikan kesemuanya itu hanya sebagai tujuan hidup tanpa memperhatikan urusan akhirat.

Sejatinya, dunia memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya berbunyi, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” Dipahami dari ayat ini adalah bahwa bumi dijadikan untuk manusia, artinya manusi memiliki hak untuk memanfaatkan segala apa yang ada di dalamnya. Pemanfaatan itu tentu harus dipahami pada hal-hal yang mengandung maslahat saja, termasuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, dalam ukuran yang diizinkan oleh syariat.

Tentu kita semua pernah mendengar atau membaca kisah viral seseorang yang memiliki kekayaan tiada bandingannya di muka bumi ini, Qarun. Dikisahkan bahwa pada awalnya Qarun adalah seseorang yang miskin. Lalu dia meminta Nabi Musa as. untuk mendoakannya agar diberikan kekayaan kepadanya. Doa itu akhirnya dikabulkan dan Qarun lantas menjadi orang yang kaya. Al-Quran menggambarkan betapa kekayaan tersebut sangat melimpah. Saking kayanya, bahkan kunci-kunci gudang hartanya sangat berat dan harus diangkat oleh beberapa orang kuat. Namun, kecintaannya yang berlebihan terhadap harta kekayaannya memunculkan perasaan sombong yang pada akhirnya mengantarkannya pada kebinasaan.

Imam Bukhari meriwayatkan satu hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata, “Celaka budak dinar, dirham, dan kain (qathifah). Jika diberi dia ridha, jika tak diberi dia tak rela.” Melalui hadis tersebut, Rasulullah saw. menekankan bahwa sungguh tak elok manusia yang hatinya terpaku pada keberadaan harta. Menjadi kaya memang tidak salah, tapi menempatkan kekayaan pada hati tidaklah dianjurkan. Tercatat dalam sejarah, tidak sedikit para alim ulama yang mempunyai kekayaan yang banyak, namun kekayaan tersebut tidak menggoyahkan hati mereka dalam menyikapi kehidupan di akhirat.

Islam menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat. Dalam surat Al-Qashash ayat 77 Allah swt. berfirman, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa akhirat memang telah disediakan sebagai tempat kembali, namun sebelumnya manusia juga ditakdirkan hidup di dunia. Dengan begitu, sebagaimana akhirat harus dipersiapkan, dunia juga harus dijadikan tempat mempersiapkan hidup di akhirat kelak.

Dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat (ad-dunya mazra’at al-akhirah). Maksudnya adalah bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang di mana kita menanam berbagai amal baik untuk dipanen nantinya di akhirat. Jika amal yang kita tanam berasal dari bibit yang kurang baik, kita harus bersiap memanen hasil yang kurang baik. Sebaliknya jika yang kita tanam berasal dari bibit yang baik, maka kita akan bergembira dengan hasil yang baik pula di akhirat kelak. Allah berfirman, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya pula.”