BANGKITKAN EKONOMI UMAT, RAIH KEMENANGAN DUNIA AKHIRAT

BANGKITKAN EKONOMI UMAT,

RAIH KEMENANGAN DUNIA AKHIRAT

Oleh: Rizqi Anfanni Fahmi, SEI, M.S.I.

Di setiap penghujung Ramadan, kita diperintahkan untuk bertakbir mengagungkan Allah tanda hari raya telah tiba. Setelah ditempa selama satu bulan oleh Allah, seharusnya kita mampu mengagungkan Allah di semua lini kehidupan, termasuk ekonomi. Kita sering mendengar kalimat Minal Aidin wal Faizin yang kurang lebih bermakna “Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang kembali dan memperoleh kemenangan”. Kemenangan dalam Alquran terdapat dalam beberapa kata salah satunya adalah Fauzu yang bermakna kemenangan berupa ampunan dan balasan surga bagi orang yang beriman dan beramal saleh serta berjihad memperjuangkan dakwah Islam. Kata “Fauzu” seakar dengan kata “Faizin”. Faizin di sini menunjukkan orang memperoleh kemenangan. Pantaskah kita mendapat predikat tersebut?

 

BERISLAM KAFFAH, SYARAT RAIH KEMENANGAN

Allah telah membuat panduan lengkap kepada kita dalam menjalani kehidupan di segala aspek melalui ajaran Islam. Islam adalah agama yang Kamil dan Syamil. Kamil berarti sempurna dan syamil berarti menyeluruh. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ma’idah ayat 3“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu”.

Mengapa agama harus repot-repot mengurus masalah ekonomi? Allah berfirman, jika kita mengaku beriman maka kita harus mau mengerjakan Islam dengan Kaffah sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 208:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”

Tujuan akhir puasa adalah menjadi orang-orang bertakwa. Salah satu makna takwa adalah takut. Seorang yang bertakwa semestinya takut harta yang diperolehnya tidak halal serta takut jika transaksinya haram. Dengan kata lain, ciri orang yang sukses Ramadannya adalah yang mulai berhijrah dari aktivitas-aktivitas ekonomi yang tidak sesuai syariah Islam. Inilah modal awal kebangkitan ekonomi umat.

 

REALITAS EKONOMI UMAT

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Populasi yang dominan tidak selamanya menjadi yang dominan dalam perekonomian. Apa daya umat Islam masih betah menjadi pasar, bukan sebagai key player. Jumlah penduduk muslim yang sangat besar tak lantas menjadi market leader. Sepuluh orang terkaya Indonesia yang ada dalam daftar, hanya ada satu yang seorang muslim entrepreneur.

Salah satu kendala mengapa pengusaha muslim di Indonesia belum menjadi pengusaha besar adalah masalah permodalan, di luar masalah etos kerja, jaringan, dan skill kewirausahaan. Padahal kita memiliki Bank Syariah. Tidak bisakah Bank Syariah menjadi penyokong utama permodalan para pengusaha muslim?

Di sini pun kita akan menemui satu lagi masalah. Ceruk Bank Syariah masih terlampau kecil dibanding bank konvensional, padahal sudah 26 tahun eksis di dunia perbankan Indonesia. Aset atau kekayaan bank syariah baru sekitar 5,7% dari total aset perbankan nasional (Otoritas Jasa Keuangan, 2018). Beberapa penyebab orang enggan memiliki rekening bank syariah antara lain karena bank syariah belum memiliki produk dan layanan selengkap, semodern, dan sebagus bank konvensional. Anggapan lain adalah bank syariah sama saja dengan bank konvensional bahkan bunganya lebih tinggi. Apakah benar begitu?

Berkaitan dengan pengusaha, maka sangat erat hubungannya dengan produk halal. Menurut data LPPOM MUI, pada kurun waktu tahun 2011-2014, baru 26,11% dari produk pangan, kosmetika, dan obat-obatan, yang mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI, 2014). Hal ini patut menjadi perhatian kita semua. Belum lagi jika kita perhatikan bagaimana kejujuran yang diajarkan Rasulullah sebagai seorang pedagang, seakan sirna oleh umatnya. Bahkan ibadah umrah pun dijadikan ladang penipuan, sebagaimana kasus First Travel yang merugikan jamaah hingga  Rp 905 milyar dengan iming-iming umrah murah (Putri, 2018).

Islam hadir memberikan panduan hidup selengkap-lengkapnya. Salah satu rukun Islam adalah zakat. Zakat tidak hanya zakat fitrah saja, tetapi ada zakat maal. Zakat maal inilah yang dapat menjadi instrumen untuk membantu saudara-saudara kita untuk bangkit dari garis kemiskinan. Namun sayangnya, belum semua umat Islam sadar akan kewajiban zakat maal ini. Menurut data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), pada tahun 2016 dana zakat yang terkumpul berjumlah Rp 3,8 triliun atau hanya kurang dari 2% dari potensi zakat di Indonesia yang mencapai Rp 286 Milyar (BAZNAS, 2017). Artinya kesadaran masyarakat masih rendah untuk berzakat, meskipun ada sebuah hasil survey yang dilakukan Charities Aid Foundation (CAF) pada tahun 2017, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan World Giving Index atau negara dengan kedermawanan tertinggi di dunia (Charities Aid Foundation, 2017). Nampaknya kedermawanan ini belum muncul dari kesadaran zakat, baru sebatas membantu sesama saja.

 

EKONOMI UMAT, JALAN MENUJU KEMENANGAN DUNIA AKHIRAT

Segelintir permasalahan di atas hanyalah secuplik keadaan umat Islam di Indonesia. Momen iedul fithri yang lalu harus kita jadikan tonggak kebangkitan ekonomi umat. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai bukti kita telah berhasil melalui Ramadan dengan predikat taqwa di bidang ekonomi keumatan:

  1. Galakkan ZERO BALANCE di bank konvensional

Jika ada yang masih menyamakan bank syariah dan konvensional, maka kita perlu belajar lagi agar kita paham bagaimana sesungguhnya letak perbedaan mendasarnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah tegaskan menfatwakan bunga bank itu adalah riba dan riba adalah dilarang dalam Islam. Lalu pasti akan muncul nyinyiran lagi, tak ada bedanya bunga di bank konvensional dengan margin atau bagi hasil di bank syariah. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275, dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. Walaupun masih banyak kekurangan sana-sini dalam perbankan syariah, maka tugas kita adalah meluruskan dan menguatkan, bukan meninggalkannya sama sekali. Ada kaidah dalam ushul fiqh: “Apa-apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya”. InsyaAllah jika semakin banyak orang yang menggunakan jasa bank syariah maka asetnya pun akan meningkat. Kuncinya apa? Umat Islam kompak berhijrah ke bank syariah, tentunya secara bertahap.

 

  1. Kampanyekan Sadar Zakat di Kalangan Umat Islam

Zakat adalah wajib bagi setiap muslim yang telah cukup nishab dan haulnya. Ada 5 objek wajib zakat menurut Syekh Wahbah Zuhaily (2011) dalam bukunya Fiqhul Islam wa Adillatuhu 1) zakat logam (emas, perak, dan uang); 2) Zakat Barang tambang; 3) Zakat barang dagangan; 4) Zakat tanaman dan buah-buahan; 5) Zakat hewan ternak.

Saat ini sedang digalakkan zakat yang sifatnya produktif. Mustahik atau penerima zakat mendapat modal dan juga pelatihan dari dana zakat sehingga diharapkan mereka lepas dari belenggu kemiskinan. Jika selama ini banyak zakat yang bersifat konsumtif, maka ke depannya zakat lebih banyak diarahkan kepada program-program produktif. Tentu saja pengelolannya harus di tangan lembaga yang profesional, yaitu Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebagaimana amanah Undang-Undang No 23 tahun 2011.

 

  1. Menjadi Pengusahayang Rahmatan lil ‘alamin

Hendaklah para pengusaha muslim bersinergi agar saling menguntungkan. Bantu pengusaha kecil yang sedang merintis. Hadirkan akhlaq dalam berbisnis sebagaimana Rasulullah telah mencontohkan. Modalnya bukan uang, tetapi kejujuran. Seorang pengusaha sukses bukan hanya dilihat dari melimpahnya omset dan aset, tetapi yang berdagang penuh etiket. Kalau sholat ia dan karyawan tidak ngaret. Tidak pelit mengeluarkan isi dompet, masjid-masjid ia belikan karpet sehingga masyarakat rasakan manfaat yang konkret. Sekalipun usahanya meroket, kejujurannya tetap awet.

 

  1. Menggencarkan Kajian-kajian Ekonomi dan Program Ekonomi Masjid

Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar”. Kita perlu membuka mata umat bahwa masalah-masalah ekonomi adalah salah prioritas yang harus dibahas di masjid-masjid. Masjid adalah institusi paling dekat dengan grassroot. Salah satu fungsi yang belum banyak kita temui adalah fungsi ekonomi. Di beberapa masjid sudah mulai muncul program-program ekonomi yang berbentuk koperasi maupun yang lain, Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang pada tahun 2017 merupakan Bank terbesar di Indonesia dengan aset Rp 1.126 triliun, dari berbagai literatur dikatakan bahwa modal awalnya berasal dari kas masjid (Sukirno, 2014). Pendirian BRI ketika itu untuk menghindari lintah darat berbunga tinggi. Dari masjid harus muncul solusi permasalahan ekonomi umat, bukan malah menambah masalah umat dengan seringnya meminta-minta kepada jamaah. Jika dikelola dengan baik dan dilakukan kerja sama dengan pihak lain, sesungguhnya program ekonomi masjid ini akan memiliki dampak signifikan kepada jamaah sekitarnya.

Umat Islam bukannya tidak kuat, tetapi belum terbangun dari tidurnya yang nyenyak sangat. Kebangkitan ekonomi umat bukanlah sebuah mimpu yang datang sekelebat. Ia akan benar-benar datang mendekat apabila setiap muslim samakan hasrat untuk terapkan ekonomi sesuai syariat. Mari bersatu mendukung kebangkitan ekonomi umat. Jauhi riba, suburkan zakat. Niscaya hidup akan tentram nikmat dan penuh maslahat serta tehindari dari berbagai mudharat. Di hari akhir mendapat syafaat. Itulah kemenangan di dunia dan akhirat.